Dinilai Lamban Tangani Banjir, Ratusan Warga Aceh Gelar Aksi, Desak Penetapan Status Bencana Nasional

Kamis, 18 Desember 2025 - 13:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera menggelar aksi unjuk rasa di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (18/12/2025).

Ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera menggelar aksi unjuk rasa di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (18/12/2025).

BANDAPOS | Ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera menggelar aksi unjuk rasa di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis pagi (18/12/2025).

Aksi tersebut dilakukan untuk menyuarakan aspirasi terkait penanganan bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bencana hidrometeorologi itu telah berlangsung selama 23 hari. Berdasarkan data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir dan longsor di wilayah Sumatera berdampak pada 52 kabupaten/kota.

BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.059 orang, sementara sekitar 7.000 orang mengalami luka-luka dan 192 orang masih dinyatakan hilang.

Selain korban jiwa, bencana tersebut juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur dalam skala besar. Tercatat sekitar 147.256 rumah mengalami kerusakan, 1.600 fasilitas umum, 967 fasilitas pendidikan, 145 jembatan, 434 rumah ibadah, 290 gedung perkantoran, serta 219 fasilitas kesehatan turut terdampak.

Baca Juga :  Tu Bulqaini : Tiba di Aceh Jenazah Ayah Sop di Shalatkan di Masjid Raya, Masyarakat Dihimbau Ikut Serta

Jumlah pengungsi mencapai sekitar 514.200 orang yang tersebar di 13 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang.

Koordinator aksi, Rahmad Maulidin, dalam orasinya menyampaikan pandangannya bahwa penanganan bencana oleh pemerintah pusat dinilai belum optimal.

“Dengan jumlah korban jiwa yang melampaui seribu orang, pengungsi ratusan ribu, serta terganggunya pelayanan publik, kami menilai perlu adanya kebijakan yang lebih konkret dan terkoordinasi,” ujar Rahmad.

Baca Juga :  Dinilai Peduli Sosial dan Budaya, Ketua DPRK Banda Aceh Terima Anugerah SAA 2023

Rahmad juga menyampaikan pandangannya terkait kebijakan pemerintah pusat yang dinilai belum membuka akses terhadap bantuan internasional. Menurutnya, keterlibatan komunitas internasional dapat membantu mempercepat proses penanganan darurat hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah poster yang berisi tuntutan dan kritik, di antaranya bertuliskan “Tetapkan Status Darurat Bencana Nasional” dan “Presiden, Negara Harus Hadir untuk Korban Bencana”.

Koalisi Masyarakat Sipil Aceh menilai bencana banjir dan longsor ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia, termasuk alih fungsi lahan dan deforestasi.

“Di beberapa wilayah, masih ditemukan material longsoran berupa tanah dan kayu berukuran besar. Data korban pun terus bertambah,” kata Rahmad.

Baca Juga :  Terkait Dugaan Korupsi Lahan Zikir, Polisi Sita Barang Bukti Tambahan

Melalui aksi ini, Koalisi Masyarakat Sipil Aceh menyampaikan tiga tuntutan kepada pemerintah pusat, yakni:

Menetapkan status darurat bencana nasional untuk banjir dan longsor di Sumatera guna memperkuat koordinasi dan pengerahan sumber daya negara.

Membuka akses bantuan kemanusiaan dari komunitas internasional pada masa tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Menegakkan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam perusakan lingkungan yang berkontribusi terhadap terjadinya bencana.

Rahmad menambahkan, penetapan status darurat bencana nasional dinilai dapat mempercepat pengambilan kebijakan, termasuk penyesuaian anggaran negara untuk penanganan bencana.” Ini merupakan bentuk harapan agar negara hadir dan berpihak kepada masyarakat terdampak,” tandasnya.(**)

Berita Terkait

Alumni 93 Jadi Pembina Upacara : Bangkitkan Semangat Kejayaan SMA Negeri 15 Adidarma Banda Aceh
Wagub Fadhlullah Jadi Penengah, Konflik Pimpinan Pidie Jaya Berakhir Damai
Akibat Banjir dan Longsor, Harga Cabai di Aceh Besar Tembus Rp250 Ribu/Kg
BREAKING NEWS : Direktur RSUDZA dan Kadis Kesehatan Aceh Mengundurkan Diri
Ribuan Warga Padati Banda Aceh, Saksikan Pawai Karnaval HUT ke-80 RI
Jalin Persaudaraan, PAS Aceh Terima Kunjungan Delegasi PAS Selangor
Peringati HAB ke 79, Kemenag Banda Aceh Santuni 206 Yatim dan Piatu
Pj Gubernur Safrizal Ucapkan Duka Cita atas Meninggalnya Abu Madinah

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 19:55 WIB

Buka Pendidikan Politik, Sibral Malasyi Tegaskan Masih Ketua PAS Pidie Jaya, Kader Diminta Tetap Solid

Senin, 28 September 2026 - 02:40 WIB

Soroti Syariat Islam dan Pengangguran di Aceh, PAS Minta Pemda Optimalkan Dana Otsus

Kamis, 24 September 2026 - 04:16 WIB

Dari Pendidikan Politik, Tu Bulqaini Minta Kader Perkuat Konsolidasi dan Kawal UUPA

Senin, 21 September 2026 - 04:38 WIB

Silaturrahmi dan Konsolidasi di Abdya, MPP PAS Aceh Gelar Pendidikan Politik untuk Kader

Senin, 21 September 2026 - 04:27 WIB

Daurah Siyasah PAS Aceh di Nagan Raya: Tegaskan Komitmen Politik Santun dan Berakhlak

Jumat, 11 September 2026 - 05:00 WIB

Perkuat Konsolidasi dan Silaturrahmi, PAS Aceh Gelar Rapimwil di Sabang

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:36 WIB

Jalin Silaturrahmi, PAS Aceh Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim

Rabu, 11 Februari 2026 - 10:19 WIB

Jelang Pergantian Kepemimpinan, Ketua Demokrat Aceh Dinilai Harus Berkapasitas dan Berwibawa

Berita Terbaru