Nelayan Aceh Besar yang Terdampar di Sri Lanka Tiba di Banda Aceh

Berita13 views

BANDAPOS | Seorang nelayan asal Kabupaten Aceh Besar, Shadiqin (40), yang sebelumnya dilaporkan terdampar di perairan Sri Lanka, tiba di Banda Aceh pada Kamis (19/3/2026) sekitar pukul 10.10 WIB.

Shadiqin kembali ke Tanah Air setelah melalui rangkaian perjalanan panjang dari Kolombo, Sri Lanka. Ia berangkat pada Senin 16 Maret 2026 menuju Jakarta dan sempat transit di Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta. Selanjutnya, pada Rabu 18 Maret 2026, ia melanjutkan perjalanan ke Medan dan singgah di Perwakilan Aceh, sebelum akhirnya tiba di Banda Aceh pada Kamis pagi.

Kepulangan Shadiqin merupakan hasil kerja sama antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kolombo, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Pemerintah Aceh melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh.

Setibanya di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Shadiqin dijemput oleh perwakilan DKP Aceh, Panglima Laot Aceh, serta aparatur Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.

Berdasarkan informasi dari Maritime Rescue Coordination Centre (MRCC) Kolombo, Shadiqin ditemukan setelah terombang-ambing di laut selama sekitar 30 hari. Ia dilaporkan berangkat melaut sejak 1 Februari 2026, sebelum akhirnya dinyatakan hilang kontak oleh pihak keluarga.

Perahu motor yang digunakannya mengalami kerusakan mesin sehingga tidak dapat beroperasi. Ia kemudian ditemukan pada 9 Maret 2026 oleh kapal nelayan Sri Lanka di perairan setempat.

Setelah ditemukan, Shadiqin sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Balapitiya, sekitar dua jam dari Kolombo, sebelum dipulangkan ke Indonesia.

Pihak KBRI Kolombo juga telah berkoordinasi dengan keluarga korban, yakni adiknya, Mudhannah. Shadiqin diketahui berasal dari Desa Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Safrizal, S.STP, M.Ec, Dev, menyampaikan bahwa keberhasilan pemulangan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk KBRI Kolombo, KKP, BPPA Jakarta, perwakilan Aceh di Medan, serta Panglima Laot Aceh.

Ia juga mengimbau para nelayan untuk selalu memperhatikan aspek keselamatan sebelum melaut, termasuk memastikan kelengkapan alat komunikasi dan kondisi kapal.

“Nelayan harus mempersiapkan alat keselamatan dan memastikan kapal dalam kondisi baik agar kejadian serupa dapat dihindari,” ujarnya.(*)

Komentar