BANDAPOS | Dinas Pendidikan (Disdik) Dayah Aceh menetapkan empat program prioritas untuk mentransformasi mutu pendidikan dayah. Langkah strategis ini menyasar perbaikan sarana fisik, digitalisasi, serta integrasi edukasi yang inklusif.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, S.Pd, M.Pd, menyatakan bahwa program ini dirancang agar lembaga pendidikan dayah mampu mencetak generasi yang berdaya saing. Langkah ini juga diselaraskan dengan visi pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf dan Wakil Gubernur Fadhlullah.
“Keempat program prioritas ini adalah bentuk keseriusan pemerintah. Kami berharap dukungan semua pihak agar Aceh menjadi lebih maju, bermartabat, dan tetap berlandaskan nilai syariat Islam,” ujar Muhsin, Jumat (19/6/2026) di Banda Aceh.
Transparansi Melalui E-Datuda
Salah satu pilar utama dari empat program ini adalah peluncuran Elektronik Data Tunggal Dayah (E-Datuda). Sistem ini bertujuan mengintegrasikan seluruh basis data dayah di Aceh ke dalam satu ekosistem digital untuk memastikan perencanaan kebijakan yang lebih presisi.
Dalam tata kelola publik, kehadiran E-Datuda berfungsi sebagai instrumen transparansi untuk mencegah tumpang tindih penyaluran dana. Sistem ini nantinya akan terintegrasi langsung dengan program prioritas lainnya, yaitu peningkatan sarana dan prasarana dayah. Melalui validasi data terpusat, alokasi bantuan dan tender proyek fisik diharapkan dapat lebih tepat sasaran serta mencegah kebocoran anggaran.
Kemandirian Ekonomi dan Literasi Teknologi
Fokus prioritas lainnya adalah peningkatan mutu pendidik dan pemberdayaan ekonomi santri. Disdik Dayah mendorong para tenaga pendidik agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman melalui serangkaian pelatihan dan lokakarya, tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman.
Di saat yang bersamaan, program pembekalan keterampilan hidup (life skills) dan kewirausahaan bagi santri mulai diintegrasikan ke dalam sistem dayah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pengenalan literasi teknologi serta pendidikan berbasis inklusi.
Melalui perpaduan nilai syariat dan kecakapan teknologi praktis, ekosistem pendidikan dayah diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga memastikan kesetaraan akses ilmu pengetahuan bagi santri di seluruh pelosok Aceh. Dengan begitu, lulusan dayah siap mandiri dalam menghadapi tantangan ekonomi modern.(**)








Komentar