Dayah Bangkit, Harapan Masyarakat Aceh Hidup Kembali

Opini22 views

Oleh : Sigit Iko

Bagi masyarakat Aceh dayah tidak pernah sekadar menjadi ruang belajar agama. Ia adalah pusat kehidupan sosial dan spiritual, tempat nilai-nilai diwariskan, adab dibentuk, dan ketenangan jiwa dirawat. Karena itu, ketika bencana seperti banjir merusak bangunan dayah, dampaknya tidak berhenti pada kerusakan fisik semata, melainkan menyentuh sendi-sendi kehidupan komunitas.

Kerusakan ruang belajar, asrama santri, dan fasilitas penunjang lainnya menandai terputusnya aktivitas pendidikan dan pembinaan akhlak yang selama ini menjadi penopang masyarakat. Dalam konteks Aceh, peran dayah bahkan sering kali melampaui institusi formal. Teungku memiliki otoritas moral yang kuat, dan dayah menjadi rujukan warga dalam menghadapi persoalan sosial, keagamaan, hingga kebencanaan.

Ketika aktivitas dayah terhenti, masyarakat kehilangan salah satu ruang konsolidasi moral dan spiritual. Hal ini terasa lebih nyata bagi para santri. Gangguan belajar, ketidaknyamanan tinggal di lingkungan yang rusak, hingga rasa cemas pascabencana dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka. Padahal, dalam situasi krisis, pendampingan keagamaan dan ketenangan batin justru menjadi kebutuhan mendasar.

Dari sudut pandang ini, pemulihan dayah pascabencana seharusnya tidak dipahami sebagai proyek rehabilitasi fisik semata. Lebih dari itu, ia merupakan upaya mengembalikan fungsi sosial dan spiritual yang vital bagi masyarakat. Membersihkan lumpur, memperbaiki bangunan, dan membenahi lingkungan dayah adalah bagian dari proses memulihkan harapan dan rasa aman bersama.

Proses pembangunan kembali dayah juga kerap menjadi ruang perjumpaan sosial. Gotong royong warga dalam membersihkan dan memperbaiki fasilitas mencerminkan solidaritas yang tumbuh dari luka bersama. Dayah kembali ditegaskan bukan hanya sebagai milik lembaga atau pengelola, melainkan sebagai milik komunitas.

Ke depan, momentum pemulihan ini seharusnya dimanfaatkan untuk membangun dayah yang lebih tertata, lebih sehat lingkungannya, dan lebih siap menghadapi risiko bencana. Sebab dari ruang-ruang sederhana itulah lahir generasi yang akan menjadi penjaga nilai, pemimpin masyarakat, dan penguat harmoni sosial Aceh.

Pada akhirnya, ketika dayah kembali hidup, yang bangkit bukan hanya sebuah lembaga pendidikan keagamaan. Yang sesungguhnya pulih adalah harapan masyarakat akan masa depan yang lebih beradab, tangguh, dan berakar pada nilai-nilai luhur.

Komentar