Aceh Besar Butuh Pemekaran? Begini Penjelasan Musannif

Jumat, 12 Juli 2024 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

H.Musannif, SE, SH
Ketua Yayasan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee

H.Musannif, SE, SH Ketua Yayasan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee

BANDAPOS :Kabupaten Aceh Besar sebagai wilayah penyangga ibu kota Provinsi Aceh menghadapi problem kesenjangan antarwilayah. Penduduk terluar dari pusat birokrasi sulit terjamah berbagai layanan birokrasi, sehingga terkesan tak mendapatkan keadilan.

Permasalahan itu mengemuka dalam FGD yang diselenggarakan pengurus MIO (Media Independen Online) Indonesia Provinsi Aceh di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Rabu (10/7/2024). Mantan Ketua DPRK Aceh Besar, Musannif, menyinggung perkembangan pembangunan Aceh Besar ketika membawa makalah dengan topik “Eksistensi Pers dalam Mengkampanyekan Politik Humanis di Era Digital”.

Forum ilmiah itu sendiri menampailkan dua narasumber secara bergantian. Selain Musannif, ada senator RI asal Aceh Fachrul Razi yang bicara tentang “Ketahanan Digital dan Tantangan Masa Depan Indonesia”. Ketua Komite I DPD RI itu tampil pada sesi kedua dipandu moderator Dr Usman Lamreung M.Si.

 

H.Musannif, SE, SH (kanan) saat tampil sebagai pembicara pada FGD yang dilaksanakan oleh pengurus wilayah organisasi Media Independen Online (MIO) Indonesia Provinsi Aceh di Kyriad Muraya Hotel Banda Aceh, Rabu 10 Juli 2024 (Foto: Ist)

Sebelum melanjutkan presentasinya, Musannif menyampaikan “disclaimer”, bahwa dia tidak akan masuk pada isu seputar politik atau pilkada. Dia hanya berpesan agar masyarakat tidak menerima mentah-mentah sebuah informasi, apa lagi bila berasal dari media sosial. “Harus melakukan tabayyun, jangan sampai termakan hoax,” sebutnya.

Baca Juga :  Muhammadiyah Aceh Gelar Rakerpimwil, Ini Agendanya

Musannif, kemudian, lebih banyak berbicara seputar perkembangan Kabupaten Aceh Besar yang sebagian wilayahnya merupakan “penyangga” Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi. Posisi ini, kata dia, secara tidak sengaja sering memunculkan pemandangan komparatif di masyarakat. Misalnya, kondisi ruas jalan di kedua daerah yang memberi kesan seolah-olah Aceh Besar sebagai wilayah yang kurang mendapat sentuhan pembangunan.

Tidak jarang, sambungnya, permasalahan itu memunculkan kecemburuan sosial di sebagian warga yang mendorong mereka untuk bergabung menjadi warga Kota Banda Aceh. Aspirasi itu sempat disambut oleh Pemko Banda Aceh yang menyatakan bersedia mengambil beberapa desa di perbatasan. “Waktu itu kita bersedia melepas, tapi syaratnya jangan diambil satu atau dua gampong, Kalau mau diambil semua, satu kecamatan,” ujar Musannif yang pernah menjabat sebagai
Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Menurut Musannif yang juga sebagai ketua Yayasan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee itu, “kecemburuan” tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat pinggiran Banda Aceh. Warga Aceh Besar yang berdomisili di radius terluar dari ibu kota kabupaten Jantho juga merasakan berbagai “ketidakadilan” terutama saat hendak mendapatkan layanan birokrasi. “Bayangkan mereka yang bermukim di Lhoong, begitu jauh ketika harus berangkat ke Jantho,” kata politisi ini.

Baca Juga :  Tutup Tahun Buku 2024, Bank Aceh Bagikan Dividen Rp300 Miliar

Selain jauh dari pusat birokrasi, masyarakat di wilayah barat Aceh Besar mulai Lhoknga hingga perbatasan Aceh Jaya juga kurang mendapatkan layanan fasilitas publik lainnya. “Coba lihat berapa unit ATM yang tersedia di sepanjang Lhoknga hingga Lhoong. Nyaris tidak ada,” ujarnya lagi.

Akibat berbagai ketertinggalan itu, dikatakan, sempat berkembang wacana pemekaran. Menurut keyakinan tokoh-tokoh masyarakat, pemekaran menjadi salah satu strategi mensejajarkan daerah itu dengan kabupaten lain di Provinsi Aceh.

Isu pemakaran itu sendiri sempat memunculkan pro dan kontra di antara beberapa pihak. Ada yang menginginkan Aceh Besar tetap utuh seperti keadaan saat ini, ada pula yang ingin memisahkan diri dari induknya menjadi Aceh Raya.

Baca Juga :  Lantik Kepala SKPA, Mualem Ingatkan Percepatan Serapan Anggaran

Bagi kelompok yang mendukung meyakini, bahwa pemekaran bisa memacu pembangunan sehingga terjadi pemerataan pembangunan. Kondisi itu dengan sendirinya akan menyerap tenaga kerja dari kalangan masyarakat Aceh Besar yang berada di wilayah barat yang meliputi kawasan Pekan Bada, Pulo Aceh, Lhoknga hingga Lhong.

Musannif salah satu kandidat calon bupati Aceh Besar yang akan maju pada Pilkada tahun 2024 ini, menguraikan bahwa pemekaran memang menjadi salah satu gagasan untuk pemerataan dan kemajuan pembangunan bagi Aceh Besar mengingat wilayah yang cukup luas mencapai 2.974,12 Km², dengan jumlah penduduk sebanyak 310.811 jiwa. Pemekaran diyakini akan memperpendek rentang kendali pelayanan, sehingga bisa lebih efektif.

Pusat pemerintahan kabupaten yang baru, dinilainya, juga bisa lebih optimal bekerja. Dengan dukungan anggaran yang sama seperti kabupaten lain, daerah pemekaran juga dapat memberi pelayanan kepada warga secara adil dan tidak lagi menghadirkan kesulitan jarak tempuh hingga puluhan kilometer. “Ini akan memberi banyak kemudahan bagi masyarakat,” demikian Musannif.(*)

Berita Terkait

Perkuat Konsolidasi dan Silaturrahmi, PAS Aceh Gelar Rapimwil di Sabang
Bank Aceh Gandeng LPPI Percepat Persiapan Menjadi Bank Devisa
Implementasi MoU Helsinki Belum Optimal, Lembaga Wali Nanggroe Turun Gunung
Dua Dekade Perdamaian Aceh, Lembaga Wali Nanggroe Himpun Masukan di Aceh Jaya
Meneladani Habib Bugak: Dirut Bank Aceh dan Jemaah Haji Kloter 2 Ziarahi Makam Pewakaf Baitul Asyi
Kesbangpol Banda Aceh Gelar Sosialisasi Pembauran Kebangsaan, Sasar 50 Ketua Pemuda Gampong
Kamar Mesin KMP Aceh Hebat 2 Terbakar, Belasan Korban Dilarikan ke RSUDZA
Bank Aceh Serahkan Buggy Car untuk Permudah Mobilisasi Jamaah di Asrama Haji Embarkasi Aceh

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 06:13 WIB

Jaga Keselamatan Pengguna Jalan, Hutama Karya Uji Coba Contraflow di KM 55 Tol Binjai–Langsa

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:47 WIB

Sering Dilanda Bencana, SAPA Minta DPRA Bentuk Pansus Lingkungan Usai Banjir dan Longsor di Aceh

Sabtu, 29 November 2025 - 20:20 WIB

BNPB: Bencana Banjir dan Longsor, 47 Warga Aceh Meninggal dan 51 Masih Hilang

Minggu, 24 Agustus 2025 - 08:31 WIB

Peringati HUT ke-80 RI, Hotel Amel Sukses Gelar Lomba Mewarnai

Jumat, 25 Juli 2025 - 07:46 WIB

Bupati Aceh Singkil Resmikan Gedung UPPKB Singkil

Rabu, 23 Juli 2025 - 04:31 WIB

Perkuat Koordinasi Pelayanan Samsat, Kepala BPKA Terima Kunjungan Dirlantas Polda Aceh

Selasa, 24 Juni 2025 - 07:28 WIB

Peringati Hari Bhayangkara ke-79, Polsek Kuta Baro Gelar Bhakti Kesehatan

Senin, 9 Juni 2025 - 07:47 WIB

Idul Adha 2025, Warga Dusun Tgk Diblang Sembelih 10 Hewan Qurban

Berita Terbaru

Plt. Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, menghadiri acara serah terima jabatan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh, yang berlangsung di Aula Kantor DWP Aceh, Rabu (9/9/2026).

Pemerintah Aceh

Plt. Sekda Aceh Hadiri Serah Terima Jabatan Ketua DWP Aceh

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:29 WIB