Sarana Mempersatukan Keluarga, Meugang Merupakan Tradisi Khas Aceh Sambut Ramadhan

Rabu, 17 Desember 2025 - 08:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDAPOS |”Uroe Makmeugang” merupakan sebuah tradisi unik masyarakat Aceh dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Salah satu tradisi yang dilakukan dengan pemotongan hewan satu atau dua hari sebelum ibadah puasa bulan ramadhan dimulai.

Tradisi pemotongan hewan ini dikenal oleh masyarakat Aceh dengan sebutan meugang atau makmeugang. Meugang dirayakan dengan cara memasak dan menyantap daging bersama keluarga sehari menjelang bulan Ramadhan. Hari tersebut dimanfaatkan sebagai momen berkumpul dan makan bersama keluarga. Bahkan, tidak jarang masyarakat Aceh juga mengundang anak yatim untuk menikmati kebersamaan pada hari Meugang.

Meugang dianggap memiliki nilai religius karena dilaksanakan pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam. Bagi masyarakat Aceh, bulan Ramadhan merupakan waktu untuk menyucikan diri. Mereka meyakini bahwa rezeki yang telah dicari selama sebelas bulan sebelumnya dinikmati pada bulan Ramadhan sambil memperbanyak ibadah. Menurut sejarah, tradisi meugang pertama kali dilakukan pada masa Kerajaan Aceh.

Baca Juga :  Rumoh Aceh Dipamerkan: Jejak Kearifan Lokal yang Tak Lekang oleh Zaman

Kebiasan turun temurun pada hari meugang tersebut menjadi sakral dan kuat dilakukan dua hari sebelum bulan Ramadhan dan satu sebelum hari raya Idul Fitri, atau Idul Adha. Ritual ini berupa daging sapi atau kambing, yang kemudian diolah menjadi hidangan khas untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, dan tetangga. Meugang bukan sekadar momen makan bersama, tetapi juga simbol syukur, solidaritas, dan persiapan menyambut hari-hari besar keagamaan.

Dasar hari meugang berasal dari masa Kesultanan Aceh Darussalam, terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Saat itu, Sultan menyembelih hewan dalam jumlah besar dan membagikan daging secara gratis kepada rakyat, khususnya kaum dhuafa, sebagai bentuk syukur atas kemakmuran negeri. Setelah masa penjajahan Belanda, masyarakat Aceh melanjutkan tradisi ini secara mandiri, sehingga Meugang tetap lestari hingga kini.

Baca Juga :  Kemenkraf Dorong Fesyen Muslim Aceh Tembus Pasar Global lewat Bootcamp

Meugang dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam. Tradisi ini dipandang sebagai ekspresi kegembiraan menyambut bulan Ramadhan, di mana masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang diperoleh selama 11 bulan dapat dinikmati sekaligus untuk beribadah. Kegiatan ini juga menjadi momen memaafkan dan mempererat tali silaturahmi antaranggota keluarga.

Meugang memiliki nilai sosial yang tinggi dapat mempersatukan keluarga, sering kali mengundang anak yatim, dan membagikan daging kepada tetangga. Tradisi ini memperkuat solidaritas dan kebersamaan di masyarakat. Bahkan, bagi mereka yang tinggal jauh, momen Meugang menjadi kesempatan untuk pulang ke kampung dan berkumpul bersama keluarga.

Tak hanya itu saja, Meugang juga memiliki dimensi ekonomi dan sosial yang unik. Harga daging melonjak signifikan pada hari Meugang, kadang mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Bagi sebagian pria Aceh, kemampuan membeli daging saat Meugang menjadi simbol status dan harga diri, termasuk bagi pengantin baru. Ketidakmampuan memenuhi tradisi ini kadang menimbulkan tekanan sosial, meski tradisi tetap dijalankan karena makna kebersamaan dan syukur yang mendasarinya.

Baca Juga :  Percepat Realisasi Anggaran, Disbudpar Aceh Tekankan Disiplin Kerja

Bagi warga non-Aceh, suasana Meugang terasa berbeda. Adi Surya, warga Jakarta yang istrinya orang Aceh, mengatakan, “Memasak daging dengan rempah khas Aceh memberi makna tersendiri, sebagai bentuk syukur menyambut bulan suci”. Sebutnya.

Meugang bukan sekadar tradisi makan bersama. Ia merupakan simbol religius, sosial, dan budaya masyarakat Aceh. Tradisi ini menyatukan keluarga, membangun solidaritas antarwarga, sekaligus menjadi momen rasa syukur.(Adv)

Berita Terkait

Brain Drain di Kota Kecil Merupakan Tantangan SDM Sabang ke Depan
Lebaran Bukan Sekadar Hari Raya, Ini Makna Idulfitri yang Sering Terlupakan
Ketika Akses Jadi Tantangan: Mampukah Sabang Menjaga Pesonanya?
Menyelam di Sabang, Pesona Wisata Dunia Bawah Laut yang Mendunia
Benteng Anoi Itam Pulau Weh, Saksi Perang di Pintu Selat Malaka
Sabang berbenah, Pariwisata Berkelas Dunia dan Berkelanjutan
Dari Laut ke Panggung ; Tarian Tarek Pukat Menghidupkan Tradisi Nelayan Aceh
Seudati, Warisan Tarian Legendaris Aceh yang Membawa Pesan Keislaman dan Kepahlawanan

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 16:42 WIB

Bahas Kemandirian Ekonomi Dayah, Disdik Dayah Aceh Audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif

Kamis, 3 September 2026 - 14:57 WIB

MIN 4 Banda Aceh Peringati Maulid Nabi, Perkuat Persatuan dan Akhlak Mulia

Minggu, 5 Juli 2026 - 04:15 WIB

Salurkan Bantuan ke Dayah Rahmatul Huda, Ini Harapan Plt Kadis Pendidikan Dayah Aceh

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:47 WIB

Sinergi DPDA dan Aceh Hijau: Rancang Model Dayah Aman dan Siaga Iklim

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:36 WIB

Cetak Santri Melek Teknologi, Ini 4 Strategi Baru Disdik Dayah Aceh Hadapi Ekonomi Modern

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:25 WIB

Plt, Kadis Pendidikan Dayah Aceh Ajak Santri Jaga Ukhuwah di Gema Muharram

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:28 WIB

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Gelar Pelatihan e-Kinerja untuk 221 PPPK

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:38 WIB

Perkuat Peran Lembaga Pendidikan Islam, Dinas Dayah Aceh Beri Masukan Strategis untuk Qanun Dayah Pidie Jaya

Berita Terbaru

Plt. Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, menghadiri acara serah terima jabatan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh, yang berlangsung di Aula Kantor DWP Aceh, Rabu (9/9/2026).

Pemerintah Aceh

Plt. Sekda Aceh Hadiri Serah Terima Jabatan Ketua DWP Aceh

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:29 WIB