Cerminan Budaya dan Agama Melalui Warisan Pakaian Adat Aceh

Rabu, 17 Desember 2025 - 07:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pakaian Adat Aceh

Ilustrasi Pakaian Adat Aceh

BANDAPOS | Pakaian adat Aceh bisa dijadikan sebagai simbol bagaimana karakter masyarakat, budaya, prinsip dan persatuannya. Sehingga Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah yaitu salah satu daerah yang tidak bisa dijajah oleh Belanda.

Khas dari pakaian adat Aceh yaitu perpaduan budaya Melayu dan Islam. Pakaian adat dalam setiap daerah umumnya memiliki filosofi atau cerita di balik setiap potong jenis pakaian tersebut. Pakaian adat Aceh mememiliki makna yang menggambarkan identitas, status sosial di daerah tertentu dan letak geografisnya. Pakaian adat biasanya digunakan pada hari-hari khusus seperti acara perkawinan, penyambutan, upacara adat dan pertunjukkan adat tertentu.

Kebudayaan Aceh memiliki kekayaan yang kuat dan mangakar pada nilai-nilai Islam diantaranya yang dikenal satu wujud budaya tersebut tercermin dalam pakaian adat Aceh yang tidak hanya berfungsi sebagai busana tradisional, tetapi juga simbol identitas, persatuan, dan keteguhan prinsip masyarakat Aceh.

Baca Juga :  Kolaborasi Layanan Syariah Hotel dan Restoran Strategi Aceh Tarik Wisatawan Nusantara & Mancanegara

Sebagai daerah pertama masuknya Islam di Indonesia dan pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara, pengaruh Islam sangat kental dalam adat istiadat Aceh, termasuk dalam busana tradisional yang sarat makna filosofis.

Pakaian adat Aceh dikenal dengan nama Ulee Balang. Dahulu, busana ini hanya dikenakan oleh kalangan kesultanan, namun kini digunakan secara luas dalam berbagai acara adat, pernikahan, dan perayaan hari besar. Ulee Balang terbagi menjadi dua, yaitu Linto Baro untuk laki-laki dan Daro Baro untuk perempuan, dengan ciri utama perpaduan budaya Melayu dan Islam serta dominasi warna hitam dan emas sebagai lambang kebesaran dan kewibawaan.

Baca Juga :  Aceh Fokus Kembangkan Ekonomi Kreatif, Peringatan Ekraf Nasional Jadi Momentum Pertumbuhan

Busana Linto Baro terdiri dari Baju Meukeusah, atasan hitam berhias sulaman benang emas bermotif flora khas Aceh seperti Pucok Reubong yang melambangkan kesuburan dan kebersamaan. Motif hewan hampir tidak digunakan karena pengaruh ajaran Islam. Busana ini dipadukan dengan celana Sileuweu yang dihiasi sulaman emas di bagian ujung, serta sarung songket Aceh yang dikenakan di pinggang untuk menambah kesan anggun dan berwibawa.

Penampilan Linto Baro dilengkapi dengan Meukeutop, penutup kepala khas pria Aceh yang terinspirasi dari budaya Islam dan Kesultanan Turki. Warna hijau melambangkan Islam dan kedamaian, kuning melambangkan kebesaran kesultanan, hitam mencerminkan ketegasan, dan merah melambangkan keberanian. Di bagian atasnya terdapat hiasan Tampoek serta lilitan kain Ija Teungkulok sebagai simbol kehormatan.

Baca Juga :  Sabang berbenah, Pariwisata Berkelas Dunia dan Berkelanjutan

Sebagai pelengkap utama, pria Aceh membawa Rencong, senjata tradisional yang menjadi simbol keberanian, ketangguhan, dan jati diri masyarakat Aceh. Rencong milik sultan biasanya terbuat dari emas dan bertuliskan ayat suci Al-Qur’an. Bentuknya diyakini menyerupai lafaz Bismillahirrahmanirrahim sebagai doa dan pengingat nilai moral.

Dengan demikian, pakaian adat Aceh bukan sekadar busana tradisional, melainkan warisan budaya yang mencerminkan sejarah, adat, serta nilai-nilai Islam yang terus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu.(Adv)

Berita Terkait

Bupati Aceh Besar Lantik Pengurus MAA Tekankan Penguatan Adat Hingga Gampong
Perkuat Sistem Keamanan Berbasis Kearifan Lokal, Pemkab Aceh Besar Godok Ranperbup
Brain Drain di Kota Kecil Merupakan Tantangan SDM Sabang ke Depan
Lebaran Bukan Sekadar Hari Raya, Ini Makna Idulfitri yang Sering Terlupakan
Ketika Akses Jadi Tantangan: Mampukah Sabang Menjaga Pesonanya?
Menyelam di Sabang, Pesona Wisata Dunia Bawah Laut yang Mendunia
Benteng Anoi Itam Pulau Weh, Saksi Perang di Pintu Selat Malaka
Sabang berbenah, Pariwisata Berkelas Dunia dan Berkelanjutan

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 06:26 WIB

Perkuat Profesionalisme dan Integritas Wartawan, LUKW-MIO Indonesia Gelar UKW Angkatan XX

Jumat, 4 September 2026 - 16:42 WIB

Bahas Kemandirian Ekonomi Dayah, Disdik Dayah Aceh Audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif

Kamis, 3 September 2026 - 14:57 WIB

MIN 4 Banda Aceh Peringati Maulid Nabi, Perkuat Persatuan dan Akhlak Mulia

Minggu, 5 Juli 2026 - 04:15 WIB

Salurkan Bantuan ke Dayah Rahmatul Huda, Ini Harapan Plt Kadis Pendidikan Dayah Aceh

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:47 WIB

Sinergi DPDA dan Aceh Hijau: Rancang Model Dayah Aman dan Siaga Iklim

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:36 WIB

Cetak Santri Melek Teknologi, Ini 4 Strategi Baru Disdik Dayah Aceh Hadapi Ekonomi Modern

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:25 WIB

Plt, Kadis Pendidikan Dayah Aceh Ajak Santri Jaga Ukhuwah di Gema Muharram

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:28 WIB

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Gelar Pelatihan e-Kinerja untuk 221 PPPK

Berita Terbaru