Dari Laut ke Panggung ; Tarian Tarek Pukat Menghidupkan Tradisi Nelayan Aceh

Rabu, 17 Desember 2025 - 17:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDAPOS | Tari Tarek Pukat adalah tarian tradisional khas pesisir Aceh yang menggambarkan aktivitas nelayan saat menangkap ikan menggunakan jaring (pukat). Tarian ini menekankan semangat kebersamaan dan kerja sama, dengan properti utama berupa tali jaring yang diolah secara dinamis. Iringan musik tradisional seperti rapai dan sarune kale melengkapi tarian, yang sarat makna filosofis tentang kehidupan, kegigihan, dan gotong royong masyarakat Aceh.

Tari Tarek Pukat, yang berarti “menarik pukat,” tercatat dalam Ensiklopedia Musik dan Tari Daerah, Provinsi Daerah Istimewa Aceh (1986) karya Firdaus Burhan sebagai salah satu tarian tradisional Aceh. Tarian ini biasanya dibawakan oleh sekelompok penari wanita berjumlah tujuh orang, dengan beberapa adegan yang melibatkan penari pria. Tarian ini kerap ditampilkan dalam acara penyambutan, adat, dan budaya.

Baca Juga :  Tingkatkan Daya Saing, Disbudpar dan Gekrafs Gelar Pelatihan Kreatif Digital di Banda Aceh

Secara historis, tarian ini terinspirasi dari tradisi nelayan Aceh yang secara bergotong royong melempar dan menarik pukat. Hasil tangkapan ikan kemudian dibagikan kepada warga yang ikut bekerja.

Beberapa gerakan utama dalam tari Tarek Pukat memiliki makna simbolik:

Surak (berteriak): Melambangkan semangat nelayan saat berlayar.

Meulinggang (lenggang Aceh): Menggambarkan keceriaan masyarakat pesisir saat menyiapkan jaring.

Meukayoh (mendayung): Simbol ketekunan dan kegigihan menghadapi ombak.

Peugot Pukat (membuat jaring): Menunjukkan kerja sama dalam aktivitas menangkap ikan.

Tari Tarek Pukat tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Aceh, seperti kerja sama, persatuan, dan ketekunan. Menurut seniman Aceh Imam Juaini, tarian ini merupakan tari kreasi yang mentradisi, lahir dari kehidupan masyarakat pesisir Aceh pada era pembangunan, bukan dari ritual atau legenda. Gerakan-gerakannya merefleksikan kreativitas masyarakat nelayan, seperti merajut tali menjadi pukat, yang juga menyimbolkan kebersamaan.

Baca Juga :  Kolaborasi Layanan Syariah Hotel dan Restoran Strategi Aceh Tarik Wisatawan Nusantara & Mancanegara

Tarian ini diiringi musik Seurune Kalee, tabuhan gendrang, dan rapa’i. Biasanya, tujuh hingga sembilan penari wanita menampilkan gerakan duduk dan berdiri yang merepresentasikan proses membuat jaring, sementara penari pria menampilkan gerakan menangkap ikan dan mendayung perahu.

Karakteristik tari Tarek Pukat:

Asal: Aceh, khususnya masyarakat pesisir.

Baca Juga :  Rumoh Aceh Hunian Iklim Tropis Bernilai Sejarah dan Relegius

Penari: Umumnya penari wanita, kadang melibatkan penari pria.

Properti: Tali sebagai simbol jaring, topi nelayan, kadang raga ikan.

Musik pengiring: Rapai, sarune kale, dan lagu Tarek Pukat.

Busana: Pakaian adat Aceh seperti baju kurung, kain songket, dan selendang kepala.

Filosofi: Mengandung nilai gotong royong, persatuan, ketekunan, dan estetika kehidupan pesisir.

Tari Tarek Pukat merupakan bagian dari kekayaan kesenian Aceh yang masih lestari dan terus berkembang, menjadi pengingat nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat pesisir. Imam Juaini menegaskan, “Sebuah karya yang memiliki nilai dan makna akan bertahan di masyarakat karena lahir dari pengalaman dan kehidupan masyarakat Aceh.” jelasnya.(Adv)

Berita Terkait

Brain Drain di Kota Kecil Merupakan Tantangan SDM Sabang ke Depan
Lebaran Bukan Sekadar Hari Raya, Ini Makna Idulfitri yang Sering Terlupakan
Ketika Akses Jadi Tantangan: Mampukah Sabang Menjaga Pesonanya?
Menyelam di Sabang, Pesona Wisata Dunia Bawah Laut yang Mendunia
Benteng Anoi Itam Pulau Weh, Saksi Perang di Pintu Selat Malaka
Sabang berbenah, Pariwisata Berkelas Dunia dan Berkelanjutan
Seudati, Warisan Tarian Legendaris Aceh yang Membawa Pesan Keislaman dan Kepahlawanan
Tradisi Suci dari Tepung Tawar hingga Benih Padi: Makna Mendalam Peusijuek di Aceh

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:29 WIB

Plt. Sekda Aceh Hadiri Serah Terima Jabatan Ketua DWP Aceh

Selasa, 8 September 2026 - 15:39 WIB

Wagub Fadhlullah Ikuti Rakor Percepatan Rehab-Rekon Pascabencana di Sumatera

Senin, 7 September 2026 - 05:16 WIB

Percepat Perubahan RKPA 2026, Pemprov Aceh Minta SKPA Rapikan Data Anggaran

Kamis, 3 September 2026 - 05:51 WIB

Bahas Agenda Strategis, Pemegang Saham Pengendali Pimpin RUPSLB Bank Aceh

Kamis, 13 Agustus 2026 - 03:51 WIB

Pemerintah Aceh Raih Penghargaan Akses Layanan Pendidikan Regional Sumatera 2026

Selasa, 7 Juli 2026 - 04:40 WIB

Sukses Transformasi Ekonomi Syariah, Aceh Borong Sembilan Penghargaan di Anugerah Adinata Syariah 2026

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:49 WIB

Sekda Aceh Muhammad Nasir Resmi Pimpin Komisaris Utama Bank Aceh Syariah Periode 2026–2030

Rabu, 10 Juni 2026 - 03:49 WIB

Mualem Minta Mendagri Percepat Pemulihan Sawah dan Infrastruktur Pascabencana di Aceh

Berita Terbaru

Plt. Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, menghadiri acara serah terima jabatan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh, yang berlangsung di Aula Kantor DWP Aceh, Rabu (9/9/2026).

Pemerintah Aceh

Plt. Sekda Aceh Hadiri Serah Terima Jabatan Ketua DWP Aceh

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:29 WIB