Dayah dalam realitas masyarakat bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi sering menjadi institusi perlindungan anak paling awal, paling dekat, dan paling mudah diakses, terutama bagi anak yatim dan anak dari keluarga miskin.
Ketika keluarga kehilangan daya dukung ekonomi, ketika rumah tidak lagi menjadi ruang yang aman atau cukup, dayah hadir sebagai ruang alternatif yang menyediakan tiga hal mendasar sekaligus: tempat tinggal, pendidikan, dan lingkungan moral. Bagi banyak anak, masuk ke dayah bukan sekadar menuntut ilmu, tetapi bentuk penyelamatan dari risiko putus sekolah, pekerja anak, eksploitasi, atau keterlantaran.
Berbeda dengan lembaga formal yang sering memiliki prosedur administratif panjang, dayah berbasis masyarakat bekerja dengan logika kepedulian sosial. Seorang anak bisa diterima karena pertimbangan kemanusiaan, bukan semata kelengkapan dokumen. Di situlah dayah berfungsi sebagai jaring pengaman sosial tradisional, menampung yang tersisih sebelum mereka benar-benar jatuh dalam kerentanan yang lebih dalam.
Dalam konteks child safeguarding, dayah menyediakan pengawasan orang dewasa, pembinaan karakter, ritme kehidupan teratur, serta komunitas sebaya yang relatif terkontrol.
Ketika bencana merusak dayah, dampaknya bukan hanya pada terganggunya proses belajar agama, tetapi juga terganggunya sistem perlindungan anak berbasis komunitas. Anak yatim dan anak miskin kehilangan ruang aman kolektifnya.
Jika fungsi dayah tidak segera dipulihkan, risiko sosial bisa melebar: anak kembali ke lingkungan yang tidak suportif, putus belajar, atau masuk ke pekerjaan berisiko.
Melihat dari kacamata ini, pemulihan dayah pascabencana sejatinya adalah bagian dari upaya perlindungan anak. Memperbaiki asrama berarti memulihkan ruang aman. Menata sanitasi berarti menjaga kesehatan anak. Menghidupkan kembali aktivitas belajar berarti mengembalikan struktur kehidupan yang stabil bagi mereka.
Membangun kembali dayah sama artinya dengan memperkuat benteng sosial yang selama ini menjaga anak-anak paling rentan di masyarakat.
Salam Pemberdayaan Dayah.
Oleh : Muhsin, S.Pd, M.Pd (Plh Kadisdik Dayah Aceh) dan Sigit Iko (Tokoh Peduli Dayah)


Komentar