Apakah Nama-nama Potensial Capres 2024 ini Sudah Cukup Menarik untuk Cegah Golput?

Daerah1 views

Apakah Semenarik Era Jokowi?

MEDIANADNEWS.COM, JAKARTA- Pilpres 2024 masih dua tahun lagi, namun nama-nama potensial capres sudah bermunculan bak jamur di musim hujan. Survei-survei pencapresan semakin ramai mencuatkan politikus-politikus unggulan. Apakah capres-capres potensial yang kini beredar sudah cukup menarik di mata rakyat sehingga mampu mencegah besarnya angka golput?

Sekelumit tinjauan telah direkam oleh Poltracking Indonesia lewat survei periode 16-22 Mei 2022. Baru 62,7 persen responden yang menyatakan ‘Ya, pasti mencoblos’ pada Pemilu 2024 nanti. Sisanya, 18,4 persen belum pasti mencoblos; 2,8 persen tegas membulatkan tekat untuk tidak mencoblos, dan 16,1 persen belum tahu atau tidak menjawab.

Terlepas dari survei Poltracking, angka golput (golongan putih) di Indonesia terlihat dinamis dari pemilu ke pemilu. Mari kita kerucutkan untuk konteks Pilpres saja.

Partisipasi Pilpres

– Pilpres 2009: 71,17%

– Pilpres 2014: 69,58%

– Pilpres 2019: 81,97%

Perspektif Pakar

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes melihat pilihan capres (atau lebih tepatnya potensial capres) sudah semakin banyak. Tiga nama mencuat di survei-survei setidaknya sampai beberapa hari terakhir ini, sebut saja Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, atau silakan mengubah urutannya. Itu sudah cukup menarik.

“Pilihan calon relatif lebih banyak, kemungkinan akan ada tiga pasang calon apabila melihat manuver politik akhir-akhir ini,” kata Arya Fernandes kepada media, Jumat (10/6/2022).

Dia melihat preferensi pemilih sudah mulai mengerucut ke beberapa nama. Orang-orang diprediksi bakal tertarik melangkah ke tempat pemungutan suara (TPS) pada 2024 nanti. Golput dinilainya bakal kecil saja.

“Dugaan saya, golput tidak akan besar. Dorongan untuk melakukan golput tidak ada yang kuat, jadi tidak ada alasan yang kuat bagi pemilih untuk golput,” kata Arya.

Direktur Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah Putra menyampaikan pandangan. Dia juga memprediksi angka partisipasi di Pilpres 2024 bakal tinggi.

“Gerakan golput di 2024 saya kira bakal lebih sedikit ketimbang sebelumnya,” kata Dedi Kurnia Syah Putra saat dihubungi media secara terpisah.

Dedi menjelaskan, loyalis-loyalis Prabowo, Anies, Ganjar, Puan, AHY, atau yang lain-lain sudah terasa fanatik pada dua tahun jelang Pilpres 2024 ini. Meski begitu, ada satu kondisi yang bisa memicu golput, yakni bilamana calon yang sangat potensial gagal mencalonkan diri lewat partainya sehingga banyak pendukung kecewa.

“Misal di PDIP memilih Puan Maharani sebagai capres sehingga Ganjar Pranowo tidak ada parpol yang mengusung, besar kemungkinan golput akan muncul dari simpul-simpul semacam ini,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan, loyalis-loyalis Prabowo, Anies, Ganjar, Puan, AHY, atau yang lain-lain sudah terasa fanatik pada dua tahun jelang Pilpres 2024 ini. Meski begitu, ada satu kondisi yang bisa memicu golput, yakni bilamana calon yang sangat potensial gagal mencalonkan diri lewat partainya sehingga banyak pendukung kecewa.

“Misal di PDIP memilih Puan Maharani sebagai capres sehingga Ganjar Pranowo tidak ada parpol yang mengusung, besar kemungkinan golput akan muncul dari simpul-simpul semacam ini,” kata Dedi.

Nanti pemilih pemula dan milenial bakal ramai. Mereka adalah kelompok dengan antusiasme politik yang tinggi. Namun partisipasi politik juga dipengaruhi oleh upaya penyelenggara pemilu.

“Bergantung bagaimana KPU melakukan sosialisasi dan menarik minat pemilih,” kata dia.

Survei IPO pada 23-28 Mei terhadap 1.200 responden, sebanyak 43 persen calon pemilih belum mengetahui jadwal perhelatan pemilu dan pilpres yang akan digelar pada 14 Februari 2024. Jumlah itu terbilang sangat besar, menurut Dedi. Maka itu menjadi pekerjaan rumah penyelenggara pemilu.

Sudah ada yang semenarik Jokowi dulu di era kini?

Di dua pemilu terakhir, ada dua pilihan nama capres berdaya tarik kuat. Akhirnya Joko Widodo (Jokowi) saat itu dipilih rakyat menjadi Presiden RI. Apakah saat ini sudah ada nama yang semenarik Jokowi di era jelang Pilpres 2014 atau Pilpres 2019?

“Waktu Jokowi maju pilpres dulu, situasinya sedang tidak ada petahana pada Pilpres 2014. Maka Jokowi mendapat momentumnya,” kata Arya. Selanjutnya pada Pilpres 2019, Jokowi masih maju sebagai petahana dengan daya tarik yang kuat. Saat itu tidak ada calon lain kecuali Prabowo.

“Makanya calon-calon potensial baru muncul di 2024,” kata Arya Fernandes dari CSIS.

Meski begitu, cara-cara menarik simpati publik pada 10 tahun lalu diprediksinya tak akan efektif lagi untuk Pilpres 2024. Internet sudah semakin cepat, masyarakat semakin kritis, selera berubah, modus-modus berpolitik juga perlu beradaptasi. Publik kekinian bakal lebih tertarik mencermati pencapaian, kinerja, dan visi politik si capres ketimbang gimik-gimik superfisial.

“Demografi pemilih berubah, style pemimpin yang mereka (calon pemilih) suka juga berubah. Cara 10 tahun lalu sudah tidak efektif untuk sekarang,” kata dia.(sumber:detik.com)

Komentar