Rasa Syukur Nelayan Aceh Dalam Memaknai Ritual Kenduri Rezeki dari Laut

Rabu, 17 Desember 2025 - 08:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDAPOS | Masyarakat nelayan pesisir di Aceh melakukan kenduri laot yang merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya, ritual ini sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang di berikan dari hasil yang diperoleh dari melaut.

Kenduri Laot atau sering disebut dengan Adat Laot merupakan tradisi masyarakat pesisir di Provinsi Aceh, peringatan kenduri laot yang dilaksanakan pada setiap tahun bertujuan untuk memperkuat eksistensi Lembaga Hukom Adat Panglima Laot.

Kenduri laot merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun dan telah ada sejak dulu di Aceh, kegiatan ini merupakan salah satu wujud rasa syukur kita kepada allah swt, atas segala rahmat dan nikmat yang telah kita terima, terutama dalam memanfaatkan hasil sumber daya laut untuk kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Sarana Mempersatukan Keluarga, Meugang Merupakan Tradisi Khas Aceh Sambut Ramadhan

Kenduri laot juga merupakan sebuah momentum penting yang dapat dimaknai sebagai wadah dalam memperkuat jalinan silaturahmi, harmonisasi sosial dan kekompakan bagi sesama masyarakat nelayan di Aceh.

Upacara tersebut digelar sebagai rasa wujud syukur para nelayan Aceh atas limpahan rezeki dari laut, maka diadakanlah acara kenduri laut yang merupakan prosesi adat masyarakat pesisir Aceh yang digelar setiap tahun. Kegiatan ini menjadi wujud syukur nelayan atas rezeki laut sekaligus memperkuat eksistensi Lembaga Hukum Adat Panglima Laut sebagai wadah yang berwenang menangani aturan dan mekanisme cara melaut di Aceh.

Kenduri Laut biasanya dilaksanakan menjelang musim timur atau saat musim barat berakhir. Setiap desa di wilayah Panglima Laut, maupun tingkat kabupaten, rutin menyelenggarakan tradisi ini. Bagi nelayan, acara ini juga menjadi sarana menjaga hubungan manusia dengan alam dan melestarikan lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Memperkuat Identitas, Bootcamp II Akselerasi Fesyen Muslim Resmi Dibuka di Banda Aceh

Kenduri laot melibatkan seluruh warga. Nelayan dan masyarakat menyiapkan makanan untuk tamu, perlengkapan peusijuk, serta perahu untuk membawa sesaji ke tengah laut. Dana dikumpulkan melalui iuran nelayan sesuai kemampuan, dengan besaran dan jadwal ditentukan melalui musyawarah.

Saat pelaksanaan, daging lembu yang disembelih dimasak, tetapi tidak boleh disantap sebelum perintah Panglima Laot dan panitia. Sebagian daging dan nasi dipisahkan untuk dibawa ke perahu oleh orang-orang yang membaca doa. Isi perut lembu yang tidak dimasak dijahit kembali ke kulitnya.

Sesaji berupa kepala, isi perut, dan tulang kemudian dibawa ke tengah laut dan dibuang sambil dibacakan doa keselamatan dan syukur.

Baca Juga :  Benteng Anoi Itam Pulau Weh, Saksi Perang di Pintu Selat Malaka

Menurut Panglima Laot Lamteungoh, Baharuddin, Kenduri Laut adalah budaya yang harus dilestarikan. Tradisi ini menjadi ungkapan syukur kepada Allah SWT atas rezeki tangkapan ikan, sekaligus mempererat silaturahmi dan membina kekompakan antar nelayan serta masyarakat pesisir. Biasanya diadakan setahun sekali, tapi bisa lebih sering sesuai kesepakatan.

Dengan mengucapkan terima kasih atas rezeki laut. Silaturahmi: Mempererat kebersamaan nelayan dan masyarakat pesisir.

Pelestarian Adat: Menjaga tradisi yang dipimpin Panglima Laot. Ritual tersebut, selain mengajarkan keseimbangan dengan alam dengan tujuan sumber daya laut tetap terjaga.

Meskipun beberapa ritual ada yang berubah sejak tsunami, namun esensi Kenduri Laut tetap sama: ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, pelestarian budaya, dan penguatan identitas masyarakat pesisir Aceh.(Adv)

Berita Terkait

Brain Drain di Kota Kecil Merupakan Tantangan SDM Sabang ke Depan
Lebaran Bukan Sekadar Hari Raya, Ini Makna Idulfitri yang Sering Terlupakan
Ketika Akses Jadi Tantangan: Mampukah Sabang Menjaga Pesonanya?
Menyelam di Sabang, Pesona Wisata Dunia Bawah Laut yang Mendunia
Benteng Anoi Itam Pulau Weh, Saksi Perang di Pintu Selat Malaka
Sabang berbenah, Pariwisata Berkelas Dunia dan Berkelanjutan
Dari Laut ke Panggung ; Tarian Tarek Pukat Menghidupkan Tradisi Nelayan Aceh
Seudati, Warisan Tarian Legendaris Aceh yang Membawa Pesan Keislaman dan Kepahlawanan

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:29 WIB

Plt. Sekda Aceh Hadiri Serah Terima Jabatan Ketua DWP Aceh

Selasa, 8 September 2026 - 15:39 WIB

Wagub Fadhlullah Ikuti Rakor Percepatan Rehab-Rekon Pascabencana di Sumatera

Senin, 7 September 2026 - 05:16 WIB

Percepat Perubahan RKPA 2026, Pemprov Aceh Minta SKPA Rapikan Data Anggaran

Kamis, 3 September 2026 - 05:51 WIB

Bahas Agenda Strategis, Pemegang Saham Pengendali Pimpin RUPSLB Bank Aceh

Kamis, 13 Agustus 2026 - 03:51 WIB

Pemerintah Aceh Raih Penghargaan Akses Layanan Pendidikan Regional Sumatera 2026

Selasa, 7 Juli 2026 - 04:40 WIB

Sukses Transformasi Ekonomi Syariah, Aceh Borong Sembilan Penghargaan di Anugerah Adinata Syariah 2026

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:49 WIB

Sekda Aceh Muhammad Nasir Resmi Pimpin Komisaris Utama Bank Aceh Syariah Periode 2026–2030

Rabu, 10 Juni 2026 - 03:49 WIB

Mualem Minta Mendagri Percepat Pemulihan Sawah dan Infrastruktur Pascabencana di Aceh

Berita Terbaru

Plt. Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, menghadiri acara serah terima jabatan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh, yang berlangsung di Aula Kantor DWP Aceh, Rabu (9/9/2026).

Pemerintah Aceh

Plt. Sekda Aceh Hadiri Serah Terima Jabatan Ketua DWP Aceh

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:29 WIB