Di Balik Gerak Tarian Rapa’i Geleng, Tersimpan Nilai Pengajaran Kebaikan dan Kebersamaan

Rabu, 17 Desember 2025 - 06:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDAPOS | Berasal dari wilayah Aceh Barat Daya, Tarian Rapai Geleng lahir dan dikembangkan menjadi salah satu tarian daerah yang terkenal tanpa diketahui siapa nama tokoh yang mengembangkannya. Namun dari beberapa literatur disebutkan, Tarian ini berasal dari dalail khairat yang kemudian bertransformasi menjadi rateb geleng yang terakhir menjadi dalam wujud tari Rapai Geleng.

Tarian ini menggunakan lirik dalam bahasa Aceh dan dilantunkan oleh seorang Cahi atau Syahi (vokalis) yang diikuti oleh penarinya. Walaupun gerakannya hampir seperti tarian Saman namun alat dan bahasa yang digunakan sangat berbeda.

Alat musik rapai hampir sama dengan jenis alat musik tabuh lainnya yang populer di masyarakat yang lebih dikenal dengan nama “rebana” yang biasanya dalam bentuk yang lebih kecil dari rapai. Rapai memiliki bentuk yang sedikit lebih tebal dan suara yang lebih besar dan terdengar lebih menggema. Permainan Rapai yang telah dikembangkan dan diiringi dengan berbagai lagu-lagu dan variasi lenggak-lenggok yang indah membentuk sebuah tarian yang dinamai Rapai Geleng.

Baca Juga :  Ritual Peutron Aneuk, Warisan Budaya Aceh Menyambut Kehidupan Baru Buah Hati

Rapai Geleng sebagai seni pertunjukan dalam wujud tarian sebagai rasa syukur atas keberhasilan dan kemakmuran. Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral untuk warga serta menjelaskan tentang hidup dalam warga sosial.

Tarian Rapai Geleng memiliki tiga babak yaitu Saleum (Salam), Kisah (kisah rasul, raja, dan ajaran agama), dan Lani (penutup). Setiap gerakan tarian ini didampingi tabuhan Rapai yang berirama satu-satu, lambat, kemudian berganti cepat didampingi dengan gerak tubuh yang sedang berposisi duduk bersimpuh, meliuk ke kiri dan ke kanan dengan gerakan cepat yang kian lama bertambah cepat.

Seni tarian Rapa’i Geleng merupakan gerakan pertunjukan tradisional Aceh yang memadukan tabuhan rapa’i, gerak tari, dan lantunan syair bernuansa dakwah. Tarian ini menampilkan nilai kebersamaan, kekompakan, serta pendidikan akhlak yang berakar kuat pada budaya dan ajaran Islam.

Baca Juga :  Perkuat Sistem Keamanan Berbasis Kearifan Lokal, Pemkab Aceh Besar Godok Ranperbup

Rapa’i Geleng biasanya dimainkan oleh 12 penari laki-laki yang telah terlatih. Gerakan tari dilakukan secara serempak dengan posisi duduk bersimpuh, diiringi tabuhan rapa’i yang ritmenya berubah dari lambat hingga cepat. Syair yang dilantunkan berisi pesan keagamaan, nasihat kehidupan bermasyarakat, serta pentingnya solidaritas sosial. Kostum penari didominasi warna hitam dan kuning, dipadukan dengan aksesori merah.

Pertunjukan Rapa’i Geleng terbagi dalam tiga babak, yakni saleuem (salam pembuka), kisah yang memuat cerita nabi, rasul, raja, serta ajaran agama, dan lani sebagai penutup. Perubahan tempo tabuhan rapa’i dan gerakan tari mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat Aceh.

Secara filosofis, Rapa’i Geleng memiliki empat tingkatan ritme gerak, yaitu lambat, cepat, sangat cepat, dan diam. Ritme lambat menggambarkan pentingnya musyawarah dan pemikiran matang sebelum mengambil keputusan. Ritme cepat dan sangat cepat melambangkan sikap tegas dalam menghadapi persoalan sosial, sementara gerakan diam menandakan ketegasan dan berakhirnya proses interaksi.

Baca Juga :  Keunikan Tari Saman Mendapat Pengakuan Dunia Sebagai Warisan Takbenda

Pertunjukan ini kerap mendapat tanggapan positif dari wisatawan. Carlington, turis asal Inggris, menyebut Rapa’i Geleng sebagai pertunjukan yang spektakuler dan sarat energi, sekaligus mencerminkan budaya Aceh yang autentik.

Seniman Aceh, Jon Heri, menilai Rapa’i Geleng sebagai media dakwah yang efektif karena menggabungkan seni pertunjukan dengan syair religius. Menurutnya, pesan-pesan dalam Rapa’i Geleng bertujuan menanamkan nilai akhlak, rasa syukur, kebersamaan, dan persatuan dalam kehidupan masyarakat.

“Perpaduan irama cepat dan lambat mengajarkan pentingnya berpikir sebelum bertindak, sementara gerakan menggelengkan kepala menjadi simbol kuat perpaduan seni dan dakwah,” ujarnya. (Adv)

Berita Terkait

Bupati Aceh Besar Lantik Pengurus MAA Tekankan Penguatan Adat Hingga Gampong
Perkuat Sistem Keamanan Berbasis Kearifan Lokal, Pemkab Aceh Besar Godok Ranperbup
Brain Drain di Kota Kecil Merupakan Tantangan SDM Sabang ke Depan
Lebaran Bukan Sekadar Hari Raya, Ini Makna Idulfitri yang Sering Terlupakan
Ketika Akses Jadi Tantangan: Mampukah Sabang Menjaga Pesonanya?
Menyelam di Sabang, Pesona Wisata Dunia Bawah Laut yang Mendunia
Benteng Anoi Itam Pulau Weh, Saksi Perang di Pintu Selat Malaka
Sabang berbenah, Pariwisata Berkelas Dunia dan Berkelanjutan

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 06:26 WIB

Perkuat Profesionalisme dan Integritas Wartawan, LUKW-MIO Indonesia Gelar UKW Angkatan XX

Jumat, 4 September 2026 - 16:42 WIB

Bahas Kemandirian Ekonomi Dayah, Disdik Dayah Aceh Audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif

Kamis, 3 September 2026 - 14:57 WIB

MIN 4 Banda Aceh Peringati Maulid Nabi, Perkuat Persatuan dan Akhlak Mulia

Minggu, 5 Juli 2026 - 04:15 WIB

Salurkan Bantuan ke Dayah Rahmatul Huda, Ini Harapan Plt Kadis Pendidikan Dayah Aceh

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:47 WIB

Sinergi DPDA dan Aceh Hijau: Rancang Model Dayah Aman dan Siaga Iklim

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:36 WIB

Cetak Santri Melek Teknologi, Ini 4 Strategi Baru Disdik Dayah Aceh Hadapi Ekonomi Modern

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:25 WIB

Plt, Kadis Pendidikan Dayah Aceh Ajak Santri Jaga Ukhuwah di Gema Muharram

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:28 WIB

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Gelar Pelatihan e-Kinerja untuk 221 PPPK

Berita Terbaru