Dugaan Malpraktik di RSUZA, Pj Gubernur Aceh Diminta Copot Direkturnya

Senin, 19 Februari 2024 - 09:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Lembaga Pemuda Aceh Reformasi (PAR) Farras

Ketua Lembaga Pemuda Aceh Reformasi (PAR) Farras

BANDAPOS : Seorang pasien asal Aceh Barat, diduga menjadi korban malpraktik di RSUZA Banda Aceh. Atas kejadian tersebut, diminta Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki untuk mencopot Direkturnya dan membenahi total manajamen rumah sakit yang selama ini dinilai bekerja tidak profesional.

Ketua lembaga Pemuda Aceh Reformasi (PAR), Farras, meminta Pj gubernur agar tidak menganggap sepele soal pelayanan rumah sakit yang berada di bawah tanggung jawabnya. “Pj Gubernur Aceh harus mencopot direktur RSUZA atas kelalaian dalam menegakkan SOP dalam lingkungan dibawah pimpinannya serta menindak tegas dengan melakukan evaluasi atas kinerja direktur RSUZA. Selain menggantikannya dengan yang lebih kompeten, juga perlu dijatuhi sangksi hukum,” ujar Farras, Senin (19/2/2024).

Lewat pernyataan tertulis kepada media ini, ia meminta, agar peristiwa malapraktik yang menimpa ibu dua anak asal Aceh Barat, Yismanila (41), cukup yang terakhir kali. “Pj gubernur harus bisa mengedepankan kemanusiaan. Jangan melihat latar belakang, karena orang miskin tidak peduli,” tegasnya.

Ia memastikan, bahwa kejadian malpraktik di RSUZA yang terus terulang tidak terlepas dari lemahnya kepemimpinan dan konsistensi penerapan SOP di Direktur RSUZA. “Kelemahan itu terus saja memakan korban,” ujar Farras.

Seperti diberitakan oleh salah satu media online sebelumnya, ibu dua anak asal Aceh Barat, Yismanila (41), yang mengalami kebutaan usai mendapatkan penanganan medis di RSUZA Banda Aceh. Wanita tersebut datang ke rumah itu untuk berobat tumor di bagian hidung.

Baca Juga :  Dukung Program Emisi Gas, Dirut PEMA Ajak Masyarakat Dunia Kurangi Emisi Rumah Kaca

Menurut suami korban, Azhar, kondisi istrinya saat pertama masuk ke ruang rawat inap Nabawi masih segar bugar, tanpa mengeluh sakit. Laki-laki ini mengatakan, petaka mulai menimpa isterinya saat dokter bagian THT membawa Yismanila ke ruang bedah untuk dilakukan pemeriksaan kembali.

Saat itu, tim dokter THT memeriksa kembali hidung isterinya dengan cara mencongkel dengan alat. Tindakan itulah yang diyakini Azhar sebagai malpraktik. Karena, sebelumnya, dokter penangunggjawab tidak merekomdasikan orang lain melakukan tindakan apa-apa setelah dokter penanggung jawab selesai melakukan pemeriksaan.

“Dokter sudah mengingatkan hidung saya tidak boleh lagi dicongkel-congkel karena tumornya memang letaknya di pembuluh darah. Sedikit saja bergoyang pasti keluar darah,” ucap Yismanila kepada seorang wartawan.

Azhar mengatakan, hidung istrinya terus mengeluarkan darah hingga mencapai 1 botol air mineral atau sekitar setengah liter dan tidak bisa berhenti. Setelah kejadian itu, kata dia, operasi yang telah dijadwalkan terpaksa dibatalkan karena ditakutkan akan terjadi pendarahan lebih parah.

Dia menjelaskan, bahwa kepada para dokter sudah diingatkan agar tidak mengambil tindakan medis terhadap isterinya tanpa persetujuan dokter bagian THT. “Saya sudah menolak kenapa kalian paksa. Apalagi dokter Beni (bagian THT) belum memberikan tanda tangan, tapi kalian paksa-paksa. Makanya begini kejadiannya,” ucap Azhar menceritakan awal mula terjadi malpraktik kepada media massa.

Baca Juga :  40 ASN Kemenag Banda Aceh Bersaing Menjadi Petugas Haji 2023

Saat dikomplain begitu, lanjut Azhar, para dokter diam semua. “Waktu dicongkel-congkel itu, dokter yang congkel mengajari dokter-dokter lainnya. Sepertinya saya dijadikan bahan uji-coba mereka,” ungkap Yusmanila.

Setelah itu, sambung Azhar lagi, istrinya kembali dibawa ke ruang inap dangan kondisi darah yang masih menetes dari lubang hidung. Keesokan harinya, tiba-tiba tim dokter memutuskan untuk dilakukan Embolisasi (penyumbatan suatu pembuluh darah) melalui selang dari pangkal paha ke otak. Operasi kecil itu dilmulai seusai Magrib hingga pukul 23.00 WIB malam. Dari informasi yang diperoleh, tindakan itu disebut bertujuan untuk menutup kuntup darah agar tidak terjadi pendarahan saat operasi.

Menurut pengakuan Yusmanila, proses ini dilakukan dengan bius lokal. Sehingga, apa yang dilakukan dokter semua dapat dilihat dan dirasakan. Wanita ini mengaku merasa kesakitan luar biasa saat dimasukan selang dalam badan hingga ke otak.

Yusmanila mengaku tidak pernah membayangkan tindakan itu bakal membuatnya buta. Yang dirasakan hanya rasa sakit yang tak tertahankan. “Saya tidak teringat bahaya ke mata. Saya bertanya dalam hati bagaimana kepala saya nanti, pasti sudah rusak, karena banyak sekali obat yang disemprot,” ujar wanita ini dengan tatapan ke wajah anaknya.

Baca Juga :  Hindari Beban Orang Tua Siswa, Kadisdik Aceh Himbau Sekolah Tak Wajibkan Wisuda

Usai dilakukan tindakan itu, cerita Azhar, istrinya muntah-muntah hebat hingga setengah sadar. Dalam kondisi tersebut, kedua matanya memang tidak bisa dibuka. Waktu itu, ia masih berpikir, mungkin karena pengaruh obat.

Ternyata, perkiraanya Azhar salah besar. Karena, setelah isterinya sadar sekitar pukul 4.00 pagi, mata kanan wanita itu memang sama sakali tidak bisa melihat lagi.

Melihat isterinya cacat, lelaki ini pun merasa terpukul. Lalu, ia menangis sekuat-kuatnya. “Waktu masuk kemari, mata dia tidak ada keluhan sedikitpun. Kenapa setelah kemari malah jadi buta,” protesnya.

Azhar sangat menyesalkan perlakuan pihak rumah sakit. Maksud hati ingin mendapatkan pertolongan medis agar penyakit yang diderita sembuh, malah sebaliknya. “Bukan sakit yang diderita berkurang, malah bertambah sakit lainnya,” sesal Azhar kepada media.

Untuk memastikan kesehatan mata isterinya, kata Azhar, pada hari Jumat 15 Februari sudah dilakukan pemeriksaan ke Poli Mata. Dari dokter spesialis mata diperoleh informasi, bahwa berdasarkan hasil USG, mata kanan wanita ini mengalami buta permanen.(*)

Berita Terkait

Peringati Maulid Nabi, IMARA Perkuat Ukhuwah dan Kecintaan kepada Rasulullah
Demi Keselamatan Pengguna Jalan, Tol Padang Tiji–Seulimeum Ditutup Mulai Hari Ini, Pengendara Dialihkan ke Saree
Bank Aceh Gandeng LPPI Percepat Persiapan Menjadi Bank Devisa
Jaga Keselamatan Pengguna Jalan, Hutama Karya Uji Coba Contraflow di KM 55 Tol Binjai–Langsa
Implementasi MoU Helsinki Belum Optimal, Lembaga Wali Nanggroe Turun Gunung
Dua Dekade Perdamaian Aceh, Lembaga Wali Nanggroe Himpun Masukan di Aceh Jaya
Meneladani Habib Bugak: Dirut Bank Aceh dan Jemaah Haji Kloter 2 Ziarahi Makam Pewakaf Baitul Asyi
Kesbangpol Banda Aceh Gelar Sosialisasi Pembauran Kebangsaan, Sasar 50 Ketua Pemuda Gampong

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pemkab Aceh Besar Salurkan Bantuan Masa Panik untuk Korban Kebakaran di Punie

Minggu, 25 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Syech Muharram Buka MTQ XXXV Aceh Besar, 665 Peserta Berlomba di Sembilan Arena

Rabu, 21 Oktober 2026 - 03:37 WIB

Abaikan Teguran, Satpol PP Aceh Besar Tertibkan Lapak PKL dan Kanopi Bangunan Liar di Bandara SIM

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Digelar di Kuta Baro, MTQ ke-35 Aceh Besar Diikuti 663 Peserta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Meunasah Tuha, Pemkab Aceh Besar Salurkan Bantuan Masa Panik

Jumat, 16 Oktober 2026 - 02:39 WIB

Peringati Hari Pangan Sedunia, Pemkab Aceh Besar Gelar Pangan Murah di Kota Jantho

Kamis, 15 Oktober 2026 - 04:35 WIB

Pemkab Aceh Besar dan Unmuha Resmi Jalin Kerja Sama Strategis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Adopsi Sistem Sumedang, Bupati Aceh Besar Paparkan Inovasi Digital dan Rencana Call Center Bencana di Monev KIA

Berita Terbaru