Upayakan Penurunan Jumlah Stunting, BKKBN Aceh Gelar Diskusi Panel Manajemen Kasus

Senin, 19 September 2022 - 04:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandapos.com | Banda Aceh – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Aceh mengelar rapat koordinasi tim tehnis dalam rangka diskusi panel manejemen kasus stunting tahun 2022 Minggu, (18/9/2022) di Hotel Harmoni Langsa.

Ketua Panitia Pelaksana dr Noliasari menyebutkan kegiatan rapat koordinasi ini di hadiri sebanyak 12 kab/kota di Aceh masing-masing, Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Utara, Lhoksemawe, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.

Kegiatan  bertujuan untuk mengitervensi penurunan stunting di Aceh memiliki menajemen strategi dan operasional yang baik serta responsif.

Sementara tujuan khususnya, pertama menemukan dan mengenal faktor resiko penyebab stunting di kab/kota, kedua mendapatkan solusi dan permasalahan yang kasuistik di tiap daerah dan yang ketiga mendapatkan stretment yang tepat pada kasus stunting yang sulit.

Selanjutnya, rapat koordinasi tim teknis dalam rangka diskusi panel manajemen kasus
stunting tahun 2022 adalah pertemuan dalam percepatan penurunan prevalensi
stunting yang diselenggarakan di tingkat Kabupaten/Kota.

Hal ini dalam rangka membedah
secara tuntas kasus-kasus pendampingan dengan tingkat kesulitan tinggi mulai
dari penyebab, tatakelola yang sedang diterapkan dan kendala yang terjadi. Ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Kepala BKKBN Aceh, Drs. Sahidal Kastri M.Pd mengatakan Pemerintah Indonesia telah menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional. Komitmen ini terwujud dalam masuknya stunting ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024 dengan target penurunan yang cukup signifikan dari kondisi 27,6 persen pada tahun 2019 diharapkan menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Baca Juga :  Gubernur Diminta Umumkan Sisa 1.000 Rumah Dhuafa dari 2.000 Unit

Berdasarkan arahan Presiden RI pada saat Rakornas tahun 2021, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ditunjuk sebagai koordinator pelaksana di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). BKKBN mengkoordinasikan upaya percepatan penurunan stunting ini melalui kerja sama lintas Kementerian/Lembaga, lintas sektor serta lintas pemerintah Pusat dan Daerah.

“Dengan dilaksanakannya pertemuan ini kita mengharapkan Seluruh Kabupaten Kota dapat melaksanakan proses pendampingan bagi keluarga beresiko stunting dan dapat melaksanakan proses Audit Kasus Stunting (AKS) sesuai dengan mekanisme yang sudah ditentukan , mendapatkan akar permasalahan serta dapat menentukan kebijakan yang tepat untuk mengatasi maslaha stunting di daerah kita ini”, ujar Sahidal

Sementara itu, Asisten I Pemerintah Aceh, M Jafar. SH.M.Hum Ketua TPPS provinsi mengatakan berdasarkan hasil studi kasus gizi indonesia tahun 2021, angka stunting Provinsi Aceh adalah 33,18%, sekaligus menempati posisi ke 3 tertinggi Se Indonesia setelah Provinsi NTT dan Sulawesi Barat.

Ini artinya terdapat 33 anak stunting dari 100 anak yang ada Aceh. Angka stunting tertinggi ada di Kabupaten Gayo Lues (42,9%), Kota Subulussalam (41,8%), Kab. Bener Meriah (40,0%). Jika melihat dari ambang batas toleransi yang direkomendasi oleh WHO tentang jumlah stunting, yaitu hanya 20%, maka tidak ada satupun Kabupaten/Kota di Aceh yang berada dibawah 20%. Termasuk Kota Banda Aceh yang terbaik namun masih pada angka 23,4%, Kota Sabang (23,8%), Bireun (24,3%).

Baca Juga :  Pemerintah Aceh Perpanjang Pemutihan Pajak Kendaraan hingga 30 April 2026

Ia juga mengatakan Stunting tidak hanya pada persoalan pertumbuhan anak saja, namun lebih comprehensive terkait juga aspek perkembangan anak, yang nantinya berkaitan dengan perkembangan otak yang kurang maksimal.

Hal ini akan berakibat pada kemampuan mental dan persiapan belajar anak berada di bawah rata-rata anak lainnya. Hal ini berakibat buruk untuk prestasi belajar anak untuk jangka waktu yang panjang. Ujar Jafar

Lebih lanjut Jafar menguraikan, ada 2 pendekatan intervensi yang dilakukan, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive yang difokuskan pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Intervensi Gizi Spesifik adalah intervensi yang berhubungan dengan peningkatan gizi dan kesehatan, sementara Intervensi Gizi Sensitive adalah Intervensi pendukung seperti penyediaan sarana air bersih, sanitasi, lingkungan sehat, dan perilaku hidup bersih sehat dari masyarakat serta pola asuh yang baik dan benar sesuai kaedah-kaedah dan norma-norma yang dianut.

Baca Juga :  Hambatan dan Tantangan Pegembangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) di Aceh

Ditambahkanya, komitmen para Ketua TPPS Kabupaten/Kota, Ketua Tim Audit Kasus Stunting, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Kesehatan, & Kepala OPD KB masing-masing Kabupaten/Kota sangatlah penting, karena dengan komitmen yang kuat dari seluruh komponen dapat menurunkan stunting dan akan mempengaruhi prioritas daerah dalam menggunakan semua sumber daya yang ada untuk difokuskan pada isu-isu komitmen yang telah dibangun.

Dikatakannya, stunting bukan hanya menjadi persoalan saat ini saja melainkan juga menyangkut persoalan pada masa depan dimana pertumbuhan anak yang terhambat serta perkembangan otak yang kurang maksimal dapat mempengaruhi kualitas anak.

Dan yang lebih penting lagi, konvergensi berbagai program yang terkait dengan penurunan stunting menjadi kata kunci untuk memastikan program-program intervensi dapat dilaksanakan dan dimanfaatkan secara optimal sehingga berkontribusi positif pada penurunan jumlah stunting di Provinsi Aceh.

Terkait dengan hal tersebut tambah Jafar, sebagai upaya percepatan penurunan stunting di Provinsi Aceh pada tahun 2019 gubernur Aceh telah mengeluarkan surat keputusan Gubernur Aceh No. 14/2019 tentang pencegahan dan penanggulangan stunting di Provinsi Aceh.

“Kami menyarankan forum ini akan menjadi wadah kita bersama dalam pengendalikan kinerja kita semua dalam menurunkan jumlah stunting di Aceh”, sebut M. Jafar.(mun)

Berita Terkait

Demi Keselamatan Pengguna Jalan, Tol Padang Tiji–Seulimeum Ditutup Mulai Hari Ini, Pengendara Dialihkan ke Saree
Bank Aceh Gandeng LPPI Percepat Persiapan Menjadi Bank Devisa
Jaga Keselamatan Pengguna Jalan, Hutama Karya Uji Coba Contraflow di KM 55 Tol Binjai–Langsa
Implementasi MoU Helsinki Belum Optimal, Lembaga Wali Nanggroe Turun Gunung
Dua Dekade Perdamaian Aceh, Lembaga Wali Nanggroe Himpun Masukan di Aceh Jaya
Meneladani Habib Bugak: Dirut Bank Aceh dan Jemaah Haji Kloter 2 Ziarahi Makam Pewakaf Baitul Asyi
Kesbangpol Banda Aceh Gelar Sosialisasi Pembauran Kebangsaan, Sasar 50 Ketua Pemuda Gampong
Kamar Mesin KMP Aceh Hebat 2 Terbakar, Belasan Korban Dilarikan ke RSUDZA

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 16:42 WIB

Bahas Kemandirian Ekonomi Dayah, Disdik Dayah Aceh Audiensi dengan Menteri Ekonomi Kreatif

Kamis, 3 September 2026 - 14:57 WIB

MIN 4 Banda Aceh Peringati Maulid Nabi, Perkuat Persatuan dan Akhlak Mulia

Minggu, 5 Juli 2026 - 04:15 WIB

Salurkan Bantuan ke Dayah Rahmatul Huda, Ini Harapan Plt Kadis Pendidikan Dayah Aceh

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:47 WIB

Sinergi DPDA dan Aceh Hijau: Rancang Model Dayah Aman dan Siaga Iklim

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:36 WIB

Cetak Santri Melek Teknologi, Ini 4 Strategi Baru Disdik Dayah Aceh Hadapi Ekonomi Modern

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:25 WIB

Plt, Kadis Pendidikan Dayah Aceh Ajak Santri Jaga Ukhuwah di Gema Muharram

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:28 WIB

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Gelar Pelatihan e-Kinerja untuk 221 PPPK

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:38 WIB

Perkuat Peran Lembaga Pendidikan Islam, Dinas Dayah Aceh Beri Masukan Strategis untuk Qanun Dayah Pidie Jaya

Berita Terbaru

Plt. Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, menghadiri acara serah terima jabatan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh, yang berlangsung di Aula Kantor DWP Aceh, Rabu (9/9/2026).

Pemerintah Aceh

Plt. Sekda Aceh Hadiri Serah Terima Jabatan Ketua DWP Aceh

Rabu, 9 Sep 2026 - 09:29 WIB